Unsoed boyband Pendidikan

Oleh: Munirah Dinayati

Jangan bayangkan patung Jenderal Soedirman bergerak lalu bernyanyi dan menari ala boyband. Judul diatas penggambaran yang layak dan tepat melihat Unsoed sekarang yang (merasa) terlihat keren dengan telah memberlakukan Uang Kuliah Tunggal di tahun 2012. Entah angka dan perhitungan dari mana, Unsoed mencoba peruntungan  layaknya boyband yang menjamur dan berharap laku dipasaran.

Uang kuliah tunggal atau UKT menjadi terobosan Dikti yang konon dapat menjawab melambungnya biaya pendidikan di Indonesia. UKT diyakini bisa meringankan beban biaya pendidikan di Perguruan Tinggi sehingga dapat dijangkau rakyat kelas bawah sekalipun. Nantinya UKT menjadi satu-satunya biaya yang dibayarkan tiap semesternya oleh mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Seakan satu komando, birokrat beserta jajarannya baik tingkat fakultas maupun universitas dan bahkan menteri pendidikan menyebutkan jika UKT obat mujarab. Besaran UKT diklaim menjadi angka yang lebih kecil dan meringankan. Pemberlakuan UKT nantinya akan menjamin tidak adanya pungutan lain.

Kembali ke Unsoed yang sudah memulai tarian boyband  seperti  disajikan panggung Dahsyat tiap pagi. Boyband amatir atau karbitan dengan gerakan dance yang asal-asalan. Asal menarik UKT tanpa ada Sk pelegalan. Asal menetapkan UKT tanpa ada angka pasti. Asal menentukan besaran UKT tanpa ada rincian. Asal membuka lebar sumbangan murni untuk menutup defisit hingga 20 milyar per tahun akibat nekat menerapkan UKT tahun ini.

Perhitungan  defisit diawal-awal tahun penerapan UKT sudah diramalkan dalam pertemuan rektor PTN se Indonesia awal bulan ini. Perhitungan yang lebih rumit dan persiapan yang belum matang menjadi alasan pasti penundaan pemberlakuan UKT hinggan tahun 2013 nanti. Beberapa PTN seperti Universitas Diponogoro pun mengaku belum siap, dengan perhitungan tahun ini menjadi masa transisi persiapan menuju tarif tunggal. Lain halnya Unsoed sebagai boyband pendidikan menjadikan ini sebuah peluang.

Performance yang parah ditampilkan pihak rektorat dalam forum audiensi dengan beberapa mahasiswa minggu lalu. Ternyata pimpinan universitas baru mulai menyusun draft UKT Unsoed di awal bulan Mei – Juni. Waktu yang sangat singkat untuk menetapkan kebijakan deretan angka fantastic. Tidak heran jika salah satu peserta audiensi, mahasiswa dari kedokteran gigi menilai Unsoed sedang menjual kucing dalam karung.

Fenomena penjualan kucing dalam karung hingga minggu ini membuat mahasiswa FKIK Jurusan Kedoteran Umum kebakaran jenggot. Obrolan hingga larut malam setelah audiensi masih meraba besaran UKT yang mencapai 10 kali lipat dari SPP sebelumnya. SPP yang sebelumnya hanya 1,5 juta rupiah kini disulap menjadi UKT senilai 15 juta rupiah tiap semester.

Belum lagi para orang tua wali murid yang kerepotan setelah tau jika nominal 15 juta rupiah alias UKT bukan lah uang pangkal sebagamana sistem BFP. Mereka tidak tau jika kucing yang dibeli harus dibayar dengan nominal yang sama tiap semesternya.

Apa kabar pertanian ?. Jangan bandingkan dengan tarian boyband Unsoed versi kedokteran umum. Nyatanya UKT merupakan biaya opeasional pendidikan yang terhimpun dari unit cost dari tiap program studi, jurusan, fakultas hingga kebutuhan tingkat universitas. Tanpa harus membayar BFP atau Biaya Fasilitas Pendidikan seperti tahun sebelumnya seharunya angka UKT yang ditawarkan dapat jauh lebih murah. Namun pertanian tahun ini dipatok UKT sebesar 3 juta rupiah tiap semester.

Padahal jika dihitung non BFP, maka pengeluaran untuk menyelesaikan studi selama 8 semester hanya 12.9 juta rupiah. Jika dihitung dengan BFP minimal 5 juta rupiah, maka pengeluaran untuk menyelesaikan studi selama 8 semester hanya 17.9 juta rupiah. Tapi dengan sistem UKT sekarang mahasiswa pertanian tahun ajaran 2012 harus mengeluarkan hingga 24 juta rupiah untuk masa studi selama 8 semester.

Jelas jauh berbeda. Selisih nominal yang dibayarkan antara BFP plus SPP dengan biaya operasional atau UKT mencapai 7 juta rupiah tiap mahasiswa. Yang pasti UKT menjadi obat mujarab bagi mahasiswa tahun ajaran 2012 untuk cepat-cepat menyelesaikan masa studinya. Jangan heran jika nantinya Unsoed juga akan melahirkan mahasiswa boyband. Asal kuliah, asal penelitian hingga asal cepat lulus.

Fasilitas Sekarat di Tengah Belajar Mengajar


“Kuliah sering pindah-pindah kelas karena LCDnya mati”

Amel, Mahasiswi Agroteknologi 2011 (04/06).

“LCD baru akan diganti apabila sudah rusak” PD II Fakultas Pertanian.

Bicara fasilitas kampus, tidak akan ada habisnya. Keluhan atas fasilitas seakan menjadi lagu wajib baik mahasiwa maupun dosen. Mulai dari AC tidak dingin, LCD mati, listrik mati, hotspot tidak connect, hingga toilet pun tidak nyaman. Tidak jarang berakhir menjadi angin lalu.

Seperti dikeluhkan Dila, TEP 2011 (4/6), menurutnya banyak fasilitas sudah tidak layak pakai seperti LCD dan AC. “LCD tidak menyala secara optimal. AC pun kalau menyala tidak dingin.” Hal ini menurutnya sangat mengganggu konsentrasi belajar di kelas. “Seharusnya pihak fakultas segera mengganti fasilitas yang rusak karena mahasiswa juga sudah membayar SPP,” tambahnya. Hal tersebut diamini Amel, Agroteknologi 2011. “Kuliah sering pindah-pindah kelas karena LCD mati,” keluhnya (4/6).

Lebih tegas, Pamungkas Adi, mahasiswa Agribisnis 2011 mengungkapkan (5/6), “Fasilitas yang didapat mahasiswa hanya memenuhi standar cukup, dengan kata lain kurang.”

Tidak hanya mahasiswa yang merasakan hampir seluruh elemen mengakui fasilitas harus diperbaiki. Salah satunya diungkapkan Indah Widyarini, S.P., M.Sc., Dosen Jurusan Agribisnis. “Masih kurang maksimal dan perlu ditingkatkan lagi,” ungkapnya (6/6). Walaupun menurutnya, fasilitas sudah mengalami kemajuan dari tahun-tahun sebelumnya.

Selain fasilitas untuk pembelajaran, fasilitas umum seperti toilet pun tidak terawat. Terlihat, jumlah toilet di kampus dengan kategori bersih dan nyaman kurang dari 50 persen. Ada pula toilet yang sudah tidak dapat digunakan. “Hanya ada satu toilet yang layak,” tambah Indah.

Kepala Bagian Umum dan Perlengkapan, Drs. Eria Agus Triono, menjelaskan, sejak 2008  fasilitas belajar mengajar di Faperta sudah mulai berkembang.  “Yang dulunya hanya memakai OHP sekarang semua ruang kelas memakai LCD,” jelasnya. Tetapi, Eria tidak memungkiri terjadi kekurangan fasilitas dari segi jumlah. “Jumlah LCD masih kurang, belum ada LCD cadangan apabila LCD rusak,” terangnya. Untuk toilet, Eria mengakui jumlah kamar mandi cukup banyak namun kurang terawat. “Memang kurang terawat sehingga ada yang tidak dapat digunakan,” tutur Eria.

PD II Fakultas Pertanian, Ir. H. Adwi Herry K. E. M. P., saat ditemui Agrica, menjawab santai keluhan-keluhan tersebut. “LCD baru akan diganti apabila sudah rusak,” tegasnya (8/6). Diakui PD II, pihak fakultas tidak tahu berapa lama masa pemakaiannya. Menurutnya jika saat perkuliahan LCD mendadak mati, hal itu hanya kebetulan. Sementara untuk AC, secara rutin dilakukan perbaikan tiap setengah tahun.

Lebih lanjut memaparkan, perangkat elektronik sering rusak karena banyak faktor, diantaranya pemadaman listrik mendadak oleh PLN. Sedangkan LCD penyebab utama kerusakannya karena pemakaian melebihi batas atau di luar jam pembelajaran. “Seperti kegiatan mahasiswa yang dengan mudah menggunakan LCD di ruangan, “ tambahnya.

Antisipasi pemadaman listrik umumnya memanfaatkan generator Sayangnya, generator yang dimiliki fakultas jumlahnya terbatas. “ Tentu saja belum bisa karena terkendala anggaran,” jelas Eria. Namun Eria menuturkan akan terus berupaya agar perkuliahan tidak terganggu.

Hal yang tak kalah sering dikomplain mahasiswa, yakni hotspot. Bukannya kecepatan akses meningkat, justru sering tidak connect. PD II menjelaskan, wewenang menyalakan hotspot dari pusat. Hotspot baru akan dinyalakan sekitar jam 8 pagi. “Jadi jika hotspot mendadak mati atau tidak connect, itu bukan dari fakultas yang mematikan,” tandasnya.

Penggantian fasilitas baru pun menuai kendala baru. Fakutas tidak memiliki gudang. Alhasil, barang lama seperti kursi dan perabot lainnya tergeletak di lorong atau sudut kampus.

Mengenai keberadaan fasilitas kampus Faperta ini, Indah Widyarini mengharapkan pengertian semua pihak, baik itu pengelola, dosen dan mahasiswa. “Sebagai masyarakat kampus, selayaknya menjaga serta memperhatikan kebersihan dan kenyamanan fasilitas di kampus,” pungkasnya. (Kasol/Intan/Anita)

 

Unsoed Nekat Tarik UKT Ringan diawal, Mencekik diakhir

Penangguhan pelaksanaan kebijakan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) membuat beberapa PTN bernafas lega dan beberapa lainnya kerepotan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh dalam berbagai media online mengakui jika kebijakan instan tersebut belum dapat terlaksana karena sosialisasi belum selesai dilakukan dan persiapan yang belum matang. Alhasil UKT ditangguhkan hingga tahun 2013.

Penundaan secara mendadak ini membuat jajaran rektoran Universitas Jenderal Soedirman kerepotan. Hal ini disampaikan oleh Pembantu Rektor II, Eko Haryanto, saat Audiensi UKT di Gedung Rektorat Lantai II Jumat (15/6) lalu. Dalam audiensi Eko menyatakan pihaknya dan  pimpinan universitas baru mulai menyusun draft UKT Unsoed di awal bulan Mei – Juni. “Ditangguhkan bukan berarti tidak boleh.  Hukumnya sunah,” tegasnya ketika dipertanyakan kenekatan Unsoed menerapkan UKT tahun ini.

Diakui oleh PR II, sistem UKT bukan tanpa resiko. Pemasukan dana pada tahun pertama, penerimaan universitas dengan UKT akan jauh menurun dibanding BFP. Sebab komponen pembayaran terbesar yaitu BFP yang mulanya terkumpul di awal, menjadi rata dibayar selama 8 semester. PR II pun telah memprediksi Unsoed bisa defisit hingga 20 Milyar rupiah. “Kalo lebih kecil lagi. Gimana minusnya,” tandasnya.

Nekatnya lagi Unsoed telah menarik biaya UKT mahasiswa baru yang diterima melalui jalur SNMPTN udangan tanpa ada SK legitimasi UKT. Bahkan setelah forum audiensi, SK UKT yang dijanjikan masih belum bisa ditunjukkan oleh pihak rektorat. Beberapa mahasiswa yang berusaha mengakses data SK UKT langsung ke pihak rektorat mengaku dipersulit. Chang aktivis LPM Solidaritas menyangsikan  akan keberadaan SK yang telah dijanjikan. “Kita dilempar-lempar. Kalau dipersulit kayak gini, jangan-jangan SK nya gak ada“ ungkap chang sangsi.

Tidak heran jika sosialisasi Unsoed dengan penggunaan sistem biaya pendidikan yang baru ini masih sangat kurang. Hal ini disampaikan oleh Lutfi dalam audiensi yang juga melibatkan Pembantu Rektor I, II, III dan staf ahli PR II. Mahasiswa FKIK Jurusan Kedokteran Gigi ini mempertanyakan akses informasi UKT bagi mahasiswa dan masyarakat. “Unsoed seperti orang jualan kucing dalam karung,” tambah lutfi.

Hal yang sama dialami Ole mahasiswa Fakultas Pertanian yang mengaku kebingungan saat harus mengurus registrasi ulang saudaranya yang diterima SNMPTN udangan. Pasalnya Fakultas masih menggunakan leaflet lama yang mencantumkan biaya BFP dan SPP. Sedangkan pada registrasi on line tertera biaya UKT per semester. “Orang tua bingung menyiapkan dana untuk kuliah,” tegasnya.

Penerapan penarikan UKT pun janggal. Walaupun sudah dipatok UKT sebesar Rp 3 juta, tidak menutup kemungkinan mahasiswa membayar lebih atau bahkan kurang. “Di form on-line ditawarkan untuk membayar lebih tinggi atau lebih rendah jika tidak  mampu,” ungkap Kusja, S.Ip., Kasubag Pendidikan dan Evaluasi UNSOED.

Ketika diminta rincian besaran UKT per prodi, Kasubag Pendidikan dan Evaluasi menuturkan belum dapat dipublikasikan. Sebab masih menunggu SK Rektor terkait pemungutan UKT. Selain itu, dijelaskan akan ada perubahan besaran UKT.  “Masih ada kemungkinan juga berubah untuk jalur penerimaan UM Lokal,” tambahnya.

Belum tuntas dengan keberadaan SK legitimasi penarikan UKT, nominal yang ditawarkan dari sistem baru ini cukup membuat mahasiswa FKIK Jurusan Kedokteran Umum terbebani. Dina mahasiswa Kedokteran Umum angkatan 2008 mengaku jika nominal UKT Rp 15 juta tiap semester cukup besar. “Apalagi mengingat Rp 15 juta tersebut juga akan dibebankan pada maba jalur SNMPTN,” jelasnya.

Sama halnya dengan nominal UKT Fakultas Pertanian yang mencapai Rp 3 juta. Dengan dalih meringankan biaya di awal semester, jika dihitung kembali, pembayaran biaya kuliah dengan UKT justru mencekik di akhir. Bagaimana tidak, berdasarkan data Bagian Pendidikan dan Evaluasi tahun 2011, rata-rata masa studi  mahasiswa Unsoed 4,75 tahun, sementara di Fakultas Pertanian mencapai 4,93 tahun. Artinya rata-rata mahasiswa menempuh studi selama 10 semester. “Salahnya sendiri lebih, ya tetep mbayar (UKT_red),” ungkap PR II, Dr. Eko Hariyanto, M.Si. Ak.

Tabel Biaya Kuliah Sistem BFP jalur SNMPTN Prodi Agribisnis selama 8 semester.

No

Komponen

Besaran (Rp)

1.

SPI+Jaket+Buku

2.500.000

2.

BOPP

5.000.000

3.

SPP 4 Semester awal(Rp 1.300.000/ semester)

5.200.000

4.

SPP 4 Semester akhir(Rp 1.050.000/ semester)

4.200.000

5.

KKN

800.000

6.

Wisuda

200.000

Total

17.900.000

Perhitungan biaya kuliah sistem BFP berbeda jauh dengan sistem UKT. Sebagai contoh, total biaya kuliah mahasiswa diterima jalur SNMPTN Prodi Agribisnis selama 8 semester sebesar Rp 17,9juta. Sementara menggunakan sistem UKT dengan biaya kuliah Rp 3 juta per semester, mahasiswa harus merogoh kocek hingga Rp 24 juta.

Rencana kebijakan instan ini tampak belum beradaptasi di tingkat fakultas. Dekan Fakultas Pertanian Dr. Ir. H. Ahmad Iqbal, M.Si. belum dapat memastikan akan pemberlakuan sistem UKT untuk tahun ini di Faperta. Tanpa bisa merinci nominal UKT Faperta yang mencapai Rp 3 juta, Dekan  hanya dapat memastikan tidak ada pungutan lain. “Saya jamin tidak akan ada pungutan biaya apapun lagi,” tegas Dekan.(Yekti/Rangga/Aliya/Lani)

Menilik kuota mahasiswa baru

                Mahasiswa baru, bukan sesuatu yang baru. Kehadirannya yang selalu ditunggu agar memberikan warna baru. Tak perlu sambutan yang mengharu-biru, cukup dengan fasilitas perkuliahan yang bermutu agar Fakultas Pertanian bisa jadi nomor satu.

Hal itu belum terlihat dalam penyambutan mahasiswa baru tahun ini, Fakultas pertanian belum berbenah menangani mahasiswa baru. Saat ditemui Agrica, Pembantu Dekan II,  Ir. H. Adwi Herry KE., MP. dan Pembantu Dekan III, Dr. Ir. V. Prihananto belum mengetahui secara pasti akan persiapan faperta dalam menyambut mahasiswa baru. Pembantu Dekan I pun memaklumi hal tersebut, “SK Rektor saja belum turun dan pembentukan panitianya pun masih belum jelas, takutnya kami salah ngomong,” ungkapnya.

Sama seperti tahun lalu, sejumlah jalur masuk akan tetap sama dengan tahun sebelumnya, yakni SNMPTN Undangan, SNMPTN Ujian Tulis, PPSB, SPMB Ujian Tulis (S1 & D3), SPMB Ujian Tulis (S1 Paralel) dan UMB Nusantara.

Menariknya, fakultas hanya menerima para calon mahasiswa yang memilih jurusan di pertanian sebagai pilihan utama. Hal ini di perjelas oleh Pembantu Dekan I,  Dr. Ir.Heru Adi Jatmiko, MP,  (7/6) “ Yang jelas, kita hanya menerima mahasiswa yang menjadikan fakultas pertanian pilihan utama,” ujarnya.

Berdasarka data yang diperoleh,  kuota mahasiswa program studi Agribisnis yang akan diterima sama dengan tahun-tahun sebelumnya.  Demikian pula yang terjadi pada program studi Agroteknologi, jumlah mahasiswa baru tahun 2012 ini sama dengan jumlah mahasiswa pada tahun 2011, yaitu 250 orang dengan empat kelas regular dan satu kelas paralel. Hal tersebut membuat Agroteknologi sebagai program studi dengan jumlah mahasiswa terbanyak.

Tidak ada perubahan terhadap kuota penerimaan mahasiswa baru karena benturan terhadap fasilitas dan kapasitas dosen. Ketua prodi Agroteknologi, Prof. Dr. Ir. Suwarto, MS. (4/6) menuturkan, “Kalau meningkatkan (mahasiswa) kita kendala pada fasilitas, kalau menurunkan (mahasiswa) rasio dosen kita masih tinggi sebanyak 77 dosen”.

Hal itu juga dilakukan dengan pertimbangan jumlah dosen PA (Pembimbing Akademik) untuk tugas akhir nantinya serta pelayanan di kelas setiap kali kuliah.  Menurut Ketua Prodi Agribisnis, Dr. Ir. Anisur Rosyad (4/6), “jumlah mahasiswa sebaiknya sesuai dengan kapasitas waktu yang dapat diluangkan oleh dosen,” tuturnya.

salah satu mahasiswa Agroteknologi 2011 (9/6) yang tidak ingin disebutkan namanya berharap, semoga dengan bertambahnya mahasiswa di fakultas pertanian tahun ini, fasilitas kampus bisa lebih baik sebanding dengan biaya masuk yang dibayarkan. (Maman/Santika/Rizma/Kisti)

Daya tampung jalur SNMPTN undangan Fakultas Pertanian UNSOED 2012 :

Fakultas Program Studi Daya Tampung
Pertanian

 

Agroteknologi

Agribisnis

Ilmu & Teknologi Pangan

Teknik Pertanian

40

16

14

12

Sumber : website unsoed (http://unsoed.ac.id/)

Daya tampung jalur SNMPTN tulis Fakultas pertanian UNSOED 2012

Fakultas Program Studi Daya Tampung
Pertanian

 

Agroteknologi

Agribisnis

Ilmu & Teknologi Pangan

Teknik Pertanian

80

32

28

24

Sumber : website unsoed (http://unsoed.ac.id/)

Mereka Enggan Pindah Sekre

Bangunan tak bernyawa berjejer rapi di lingkungan PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa). Menoleh sejarah bangunan, yang berumur 6 tahun tentu seharusnya sudah kondusif dan ramai diisi oleh kegiatan mahasiswa. Tetapi, pemandangan sebaliknya ditampilkan disana. Masih banyak sekretariat kosong alias tak berpenghuni

Hingga saat ini, total berjumlah 35 UKM tingkat universitas yang sudah mendapatkan SK Rektor. Namun, tidak semua sekretariat berlokasi di PKM. Mereka yang enggan pindah umumnya adalah UKM tertua di kampus.

Seperti resimen mahasiswa dan SEF, mereka betah bertempat di depan Gedung Soemardjito bersama dengan Racana Soedirman. Berbeda lagi dengan UPL MPA Unsoed yang bertempat di sebelah SAC (Unsoed Health Center) atau depan kampus Fisip.

Seperti halnya Menwa berdiri sejak tahun 1977 yang dilegalkan oleh Universitas dengan SK gubernur. Menwa memiliki alasan kenapa belum mau pindah ke PKM, karena ruangan PKM yang terlalu kecil buat organisasi seperti Menwa. “Buat taruh meja saja sudah tidak cukup,” tutur Widodo, komandan Menwa saat ini (06/06). Masvin selaku alumni Menwa Menambahkan, para alumni Menwa yang lain jelas akan marah jika markas dipindah dengan lokasi sekecil itu, kalaupun pindah minimal disediakan ruangan yang sama seperti disini.

Ungkapan seirama diutarakan oleh fahrul yang menjabat sebagai presiden SEF saat ini, yang keberatan jika harus pindah lokasi sekrenya ke PKM, dapat dinilai dari sisi history disekre kami saat ini sangat kuat. Ditambah lagi kami mempunyai anggota baru setiap tahunnya lebih dari 300 member, dan tentunya dibutuhkan ruangan yang besar untuk pembelajaran. “Karena kami membutuhkan ruangan yang representaf,” tambah Fahrul.

Menanggapi hal tersebut, PR III berpendapat bahwa sudah dilakukan negoisasi kepada 4 UKM ini untuk pindah lokasi sekrenya ke PKM. Tapi mereka belum mau, karena lokasi yang sekarang dinilai lebih strategis. “Sebenarnya keinginan dari pihak Rektorat supaya mereka bisa bergabun dengan UKM lainnya, supaya lebih mudah manejemennya dan lebih teratur,” pungkasnya (07/06). (Widya, Aziz, Bekti).

Persiapan OSMB di depan mata

Mahasiswa baru segera datang. Berbagai cara penyambutan segera digelar, salah satunya OSMB PADI. Kesibukan serupa juga sedang digelar di tingkat Universitas, Ospek Universitas. Kedua kegiatan ini mulai terdengar gaungnya. Terbukti dengan dibukanya oprec (open recruitment) panitia di hari yang bersamaan.

Dibanding tahun lalu, oprec OSMB PADI kini bisa dikatakan terlambat. Pasalnya pembentukan BP atau Badan Perumus baru saja dilakukan.  “Pembentukan BP memang bisa dikatakan terlambat, karena ada ajang besar juga di pertanian yaitu porsemapa,” tutur Arif Imam Mahmud, Mendagri Faperta (6/6).  Namun menurut Arif hal itu tidak menjadi kendala karena kinerja BP tidak diragukan lagi. “Pemilihan BP pun tidak sembarangan,” tambahnya (6/6). Dedikasi tinggi, komitmen kuat, dan pengalaman menjadi kriteria tertentu yang harus dimiliki.

Jika menilik lebih lanjut, minat mahasiswa pertanian mengikuti kepanitiaan OSMB masih jauh lebih tinggi dibanding untuk kepanitiaan Ospek Universitas. Hal ini diungkapkan Fadhli Agt ’11, “Tentu saya lebih minat kepanitiaan OSMB, karena disini ruang lingkup sendiri, yang bakal jadi keluarga sendiri nantinya”.(6/6)

Dilihat dari alur kegiatannya, OSMB PADI berbeda dengan Ospek Universitas. Jika Ospek Universitas hanya berisi pemberian materi dan materi, OSMB PADI lebih menekankan pada output yang akan dihasilkan nantinya. Seperti yang diungkapkan Apip, salah satu anggota BP OSMB PADI 2012, “Alur kegiatan OSMB PADI ini menyangkut bagaimana menyampaikan materi sampai goal setting atau output yang diharapkan nantinya”. (6/6). (putri cakka/dike/aaf/dian jojo)

IWM (Iuran Wajib Membingungkan),

 Antara Ada dan Tiada

Pembayaran IWM (Iuran Wajib Mahasiswa) merupakan harga mati pengambilan KHS (Kartu Hasil Studi). Jika tiap semester mahasiswa tidak membayar sebesar Rp. 7. 500, jangan berharap mendapatkan nilai. Namun syarat itu tidak berlaku untuk semester ini dan seterusnya. Kini keberadaan IWM diibaratkan seperti hantu yang masih bergentayangan. Keberlanjutannya masih dipertanyakan.

Awalnya tidak ada yang mengetahui kapan IWM mulai berlaku. Tidak ada peraturan khusus atau Surat Keputusan (SK) yang mengaturnya. Ketika dikonfirmasi oleh Agrica, Dr. Ir. Heru Adi Jatmiko M.P, Pembantu Dekan I menampik adanya dana tersebut. “IWM adalah urusan mahasiswa, saya tidak tahu adanya dana tersebut.” (4/6).

Ketidakjelasan pengadaan IWM ini membuat beberapa Hima-Unit kebingungan, karena dari mereka mengandalkan IWM untuk mendukung program kerja mereka. “Pada saat Porsemapa, dana tersebut berguna untuk biaya konsumsi atlit,” ungkap Aditya Bagus, Ketua Himagreen. Dari pihak Himagreen sendiri belum melakukan keputusan apakah akan diadakan kembali IWM atau tidak, karena Aditya menambahkan bahwa instruksi dari Pembina Himagreen supaya tidak lagi dilakukan pengadaan IWM. “Dari awal, mahasiswa sudah ditarik biaya banyak, masa ditarik lagi.”, tambahnya (5/6).

Di tengah ketidakjelasan IWM, tahun ini Himateta tetap menarik IWM. Namun kemudian dana IWM satu semester dikembalikan. Menurut Vanes, bendahara umum Himateta, pihaknya setuju dengan adanya IWM. “Saya berharap IWM kembali ada, karena berfungsi sebagai sumber dana terbesar dan modal bagi pengurus selanjutnya”. ungkapnya.

Dalam Teknis pengembalian dana IWM, Prayoga Dwi Jatmoko, Ketua Umum Himateta, menuturkan Himateta mendata mahasiswa yang ingin IWM dikembalikan. Namun dana IWM yang tidak diambil akan digunakan untuk inventaris Himateta. Yoga juga mengaku telah menyampaikan kesepakatan ini di awal dengan mahasiswa Himateta.

Hima-Unit mengaku membutuhkan IWM. Bagi Unit program kerja mereka biasanya membutuhkan modal yang tidak sedikit. “IWM berguna untuk menunjang kegiatan Unit,” papar Dyah Ayu Permatasari, Direktur Utama BIWARA (8/6). Menurut Nur Rachmawati yang biasa disapa Inung, Menteri Keuangan BEM, IWM dapat membantu kegiatan Hima-Unit sebagai dana cadangan kegiatan sebelum dana dari Birokrat belum cair. “Sangat membantu untuk menambah kurangnya biaya, ketika dana dari Fakultas tidak cukup,” ungkapnya (4/6).

Saat monitoring bulan Mei, BEM sempat menyinggung permasalahan pengadaan IWM. Namun, memang belum ada keputusan yang diambil oleh BEM. Bem menyerahkan kembali pada Hima-Unit akan diadakan kembali atau tidak. “Kita serahkan balik kepada Hima karena dana tersebut juga untuk mereka,”,papar Inung.

(Jovita/Rizki/Sonari/Mardi)

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.